Rabu, 09 Maret 2022

Setelah mengucapkan kalimat barusan, tangan kanan Jovan yang digunakan untuk mendekapku merogoh salah satu saku di celananya lalu mengeluarkan sapu tangan.

Untuk kedua kalinya aku berusaha kabur dari Jovan. Namun usahaku gagal, karena Jovan berhasil membekap mulutku dengan sapu tangan tadi. Sapu tangan yang terdapat obat bius di dalamnya.

10 menit kemudian...

Perlahan kedua kelopak mataku terbuka. Pandanganku mengedar ke seluruh ruangan. Kulihat beberapa meter di depanku ada Jovan yang memunggungiku. Detik setelahnya aku bergegas mencari semua barang-barangku. Namun hasilnya nihil, nampaknya Jovan yang menyimpan semua barang-barangku.

“Sial!” tanpa sadar aku mengumpat dengan suara yang cukup keras, membuat Jovan menoleh ke belakang.

“Jenath, rupanya kamu sudah bangun,” ujar Jovan sambil melangkahkan kakinya ke arahku.

“J-jangan mendekat!” ujarku ketakutan sembari mundur selangkah demi selangkah.

Sudut bibir kiri Jovan naik, “Kenapa ucapanmu terbata-bata?”

“Berhenti di sana, Jovan!”

Sayangnya ucapanku tak dipedulikan olehnya. Jovan semakin mempercepat langkahnya, membuatku semakin ketakutan sampai aku tak sadar bahwa tubuhku sudah menyentuh dinding. Detik berikutnya tanpa kusadari Jovan sudah berada di hadapanku.

“Kenapa ketakutan gitu, Jenath?” bisik Jovan tepat di depan daun telingaku.

Ekspresi ketakutan yang ditampilkan olehku ternyata malah membuat Jovan tersenyum senang. Kini Jovan membelai lalu menangkup kedua pipiku sembari menatapnya lekat-lekat.

“Jangan macam-macam, Jovan.” Peringatku padanya.

Walaupun begitu Jovan sama sekali tidak gentar dan malah meraba sekitar tubuhku. Aku yang ketakutan tetap berusaha kabur, tetapi karena tenaga Jovan yang lebih besar dariku, dia malah mengangkatku dan membawaku ke kasur yang ada di ruangan, kemudian membantingku ke kasur itu.

“Akhirnya aku dapat memilikimu seutuhnya Jenath”. Ucap Jovan sambil menyeringai dan menahan tubuhku di bawahnya.
 
Sialnya tanganku ditahan dan Jovan mulai meraba tubuhku dari atas sampai ke bawah. Aku berusaha memberontak dengan menggerakkan kakiku brutal. Tapi Jovan yang tidak bergeming dari posisinya tetap melakukan aksinya.

“Lebih baik kau diam dan nikmati sentuhanku Jenath, jujur saja kau pasti menikmatinya bukan,” bisik jovan dan menjilat daun telingaku dan terus meraba tubuhku.
 
Tanpa bisa membalas ucapannya, Jovan tetiba menciumku, YA CIUM! Aku  berusaha melepaskan ciuman itu dengan kuat, tetapi Jovan semakin gencar, aku panik dan langsung menggiggit lidah Jovan dan ternyata berhasil! Jovan pun langsung melepaskan ciumannya karena kesakitan.

Aku pun membrontak agar bisa lepas dari Jovan. Dengan sekuat tenaga aku menendang area intim Jovan, dan berhasil lepas dari cengkraman Jovan.

“UGHH, Sial! Berani-beraninya kau JENATH!!” Memanfaatkan kondisi Jovan yang masih terduduk kesakitan pun, aku mencari ponselku. Saat menemukan benda pipihtersebut, aku segera berlari dengan cepat, ketika melihat Jovan yang mulai bangkit dengan ekspresi marah yang tercetak jelas di wajahnya.

Ketika Jovan menyadari Jenath yang semakin jauh, dia pun segara mengejar Jenath mengabaikan bagian bawahnya yang masih kesakitan.

“KEMBALI KE SINI JENATH!” Aku yang merinding mendengar teriakan penuh amarah Jovan dengan segera menambah kecepatan lariku dan berlari menjauh dari bangunan itu. 

Aku pun terus berlari sambil mencari tempat ramai agar Jovan tidak dapat mengejarku lagi. Meskipun sudah berlari lumayan jauh dari bangunan tersebut, sialnya tidak ada orang sama sekali.

Aku melihat kebelakang dan benar saja Jovan juga sudah mendekat. Apa yang harus kulakukan !?

“KEMBALI JENATH!” teriakan itu kembali terdengar, Aku semakin takut dibuatnya, lari dan lari hanya itulah yang ku pikirkan untuk sekarang ini, hingga aku menemukan tempat yang cocok untuk ku bersembunyi. 

“Ponsel, dimana ponsel ku,” dengan tanggan yang bergemetar, Jenath berhasil menemukan ponselnya di dalam kantong celananya. 

“Aku harus menelpon siapa, polisi, iya polisi.” Ditekannya 110 pada aplikasi telepon yang terdapat di ponselnya hingga detik berikutnya panggilanpun tersambung. 

“Tolong, tolong aku, aku ada di jalan manggis, cepat kemari, kumoo---- 

Layar ponsel menjadi hitam. Ada apa ini? Sial! Kenapa harus mati disaat-saat seperti ini?!

“JENATH DI MANA KAU, AKU TAHU KAU BERSEMBUNYI, KELUAR!” teriakan itu terdengar lagi untuk yang kesekian kalinya. Aku sudah lemas, kakiku seperti mati rasa, tidak kuat lagi untuk berlari. Hanya bersembunyi dan berdoa yang dapat kulakukan sekarang ini, berharap agar polisi cepat datang. 

5 menit aku bertahan dari persembunyian ku, akhirnya aku dapat kembali bernapas lega setelah mendengar sirine polisi. 

“ANGKAT TANGAN!” 

Polisi membawanya pergi, aku dapat melihatnya dari tempat ku bersembunyi.

“SIAL! KENAPA ADA POLIS?!” umpatan itu keluar dari mulutnya. Jovan segera mengangkat tanganya. Polisi dengan segera memborgol tanganya dan menggiringnya untuk masuk ke dalam mobil. 

Kurasa semuanya sudah aman, aku membernaikan diri untuk keluar dari persembunyian ku dan menghampiri para polisi.

“Terimakasih, Pak” Ucap Jenath.

“Sudah tugas kami. Silakan datang ke kantor kami untuk dimintai keterangan.” Ujar salah satu polisi.

“Baik, Pak.” Jawabku.

5 hari setelah kejadian itu, hidupku mulai berangsur-angsur kembali seperti sedia kala. Hingga panggilan masuk mengusik telinga ku.

Ponsel ku jatuh dari genggaman, badan kembali bergemetar saat mendengar kabar bahwa dia kabur. Cemas dan takut kembali muncul. 

“Apa yang harus aku lakukan?”

Akhirnya Jenath memutuskan untuk menggurung dirinya di dalam kamar. 

Dilain tempat, adengan kejar-kejaran sedang berlangsung. 

“BERHENTI!” 

JDERRRRR 

Tubuh orang tersebut terpental, bersamaan dengan berhentinya sebuah mobil. 

Polisi dengan segera membawa orang itu ke rumah sakit. Polisi berjaga di depan ruang orang itu, karena status nya yang masih menjadi narapidana. Tidak lama dokter keluar, dan menjelaskan keadaan pasien yang ternyata mengalami kelumpuhan dikedua kakinya. 

1 jam sudah berlalu orang itu akhirnya pun tersadar. 

“Di mana aku?” Ucap orang itu. 

Tak begitu lama polisi masuk kedalam ruangannya.

“Maaf dengan saudara Jovan, anda akan segera kembali ke ruang tahanan.” 
Benar orang itu tak lain dan tak bukan adalah Jovan. 

“Pak, kedua kaki saya kenapa mati rasa? Kaki saya baik-baik saja kan?” tanya Jovan.

“Maaf kedua kaki anda mengalami kelumpuhan.” 

Tatapan kosong tergambar jelas pada raut wajah Jovan.

“Hahaha .. Bapak becandakan?”

Akan tetapi, kenyataan tidak berpihak padanya. Jovan benar-benar lumpuh. 

“TIDAK!” jeritan tidak terima terdengar jelas pada ruangan itu hingga dokter menyuntikanya obat penenang.

Rabu, 02 Maret 2022

"APA-APAAN KAMU TADI HAH?!"
Nada bicaraku yang membentak mengejutkan semua orang yang ada di ruangan ini. Semuanya melihat ke arahku, begitu juga Jovan. Ia pun langsung berdiri setelah ku dorong sampai terduduk. Raut wajahnya seolah-olah tidak mengerti apa-apa. Tapi aku sangat yakin, pasti dia ada maksud tersembunyi setelah melakukan itu padaku. 
“Apa maksudmu mendorong ku seperti itu?” Jovan meminta penjelasan padaku. 
“Pertanyaan macam apa itu? Sudah jelas bukan, kamu melakukan itu dengan sengaja!”
“Ada apa sih ini ribut-ribut?” Sahut Sinta tidak mengerti.
"Jovan seperti meraba pinggangku, tidak. Bukan seperti, tapi dia memang melakukannya," kataku pelan tapi tetap dapat terdengar. Aku malu harus mengatakan hal memalukan ini di depan teman-teman terlebih lagi pada orang yang aku sukai. 
"Apa yang kamu katakan jenath? Koreografinya kan memang ada gerakan yang memegang pinggang." Jovan mengelak pernyataanku 
"Tidak. Itu berbeda dari memegang, kamu—" 
"Jenath, sepertinya kamu yang salah paham koreografi nya memang seperti itu. Itu hanya gerakan biasa. Lagipula kalian berdua sama-sama lelaki bukan? Jovan tidak mungkin melakukan macam-macam. Sebaiknya kita segera lanjutkan latihannya karena mentari  semakin rendah." Shinta angkat bicara menghentikan perdebatan ku dan Jovan. 
"Tapi… Baiklah." Aku tidak bisa berkata apapun lagi. Tapi aku yakin itu bukan gerakan biasa atau mungkinkah aku hanya paranoid? 
Setelah keributan kecil itu latihan dilanjutkan, tapi aku tetap merasa tidak nyaman selama berlatih dengan Jovan walau dia tidak melakukan tindakan aneh lagi. Rasanya aku ingin hari ini cepat berakhir agar bisa istirahat. Aku sangat lelah baik secara fisik dan mental. 


Hari hari sekolah berikutnya si manusia aneh itu semakin membuat ku risih. Saat jam pelajaran di kelas ia menatapku lekat-lekat dari ujung kaki hingga rambut dengan mata yang sulit diartikan. Aku tetap mencoba tidak menghiraukan nya dan fokus pada pelajaran tapi Jovan benar benar menatap sepanjang pelajaran berlangsung. Akhirnya bel istirahat berbunyi, aku langsung pergi menuju kantin untuk menghindari tatapan anehnya itu. Tapi ternyata dia mengikutiku.
"Kenapa kamu mengikuti ku?" Tanyaku ketus
"Ini jam istirahat sudah sewajarnya untuk pergi ke kantin bukan?" Elak Jovan.
"Baiklah kamu pergi ke kantin, sana. Aku sudah tidak selera," kataku sambil berbalik arah menuju kelas kembali. Baguslah kalau dia ke kantin, aku bisa sendirian di kelas. Aku juga sedang malas berebut antrian di kantin ramai yang bising. 
Tidak sampai 5 menit Jovan kembali ke kelas katanya antrian panjang dan tidak dapat tempat duduk. Aku hanya menghela nafas mendengarnya, entah itu hanya alasan Jovan atau memang kenyataan. Sekarang aku terjebak berdua di kelas yang sepi bersama Jovan yang kembali menatapku. 
"Berhenti terus menatapku seperti itu Jovan," pintaku sedikit kesal.
"Habisnya kamu itu indah dan manis. Apalagi manik hitam itu, aku menyukainya." Jovan berkata tanpa merasa bersalah seolah itu tindakan yang wajar dilakukan. 
Aku kehabisan kata-kata menghadapinya. Untungnya bel kembali berdering, murid-murid lain mulai memenuhi kelas. Jovan tidak lagi menatapku karena sekarang pelajaran guru killer yang bahkan tidak membiarkan muridnya bergerak sesenti pun. Entah itu merupakan hal yang baik atau buruk bagiku. Selain itu jovan juga mengelus tangan atau pipiku setiap ada kesempatan, walau aku tepis kasar berulang kali ia tetap saja melakukannya membuat ku geram. Itu semua terjadi selama beberapa hari sampai hari ini. Hari yang membuat aku semakin marah. 
Hari ini latihan menari terakhir kami dengan aku yang berusaha positif thinking pada Jovan, tapi tetap tidak bisa. Setelah selesai latihan aku pergi ke toilet meninggalkan Jovan dan Shinta berdua karena yang lain sudah pulang sebelumnya. 
Setelah selesai dengan urusanku ditoilet, aku bergegas kembali ke kelas untuk mengambil tas ku agar segera pulang. Tapi saat didepan pintu kelas, aku mendengar sesuatu yang sama sekali tidak pernah ku harapkan.
“Kamu yakin dengan yang kamu katakan tadi?” Tegas Jovan.
“Yakin banget. Seribu persen yakin, aku suka sama kamu, Jo,” jawab shinta dengan mempertegas nada suaranya untuk meyakinkan Jovan.
Sudah cukup dengan masalah Jovan yang selalu menggangguku setiap hari. Tapi mengapa orang yang ku sukai harus menyukai orang yang tentu bukan diriku sendiri? Mengapa dunia begitu kejam padaku? Apakah aku sangat tidak pantas untuk memiliki Shinta yang hampir dapat dibilang sempurna? Apakah aku seburuk itu?
Air mata membasahi pipiku tanpa permisi. Hatiku hancur, benar-benar hancur. Tapi aku tidak bisa melakukan apa-apa. Karena aku tau, aku bisa bersaing dengan orang yang menyukainya. Namun, aku tidak akan bisa bersaing dengan seseorang yang ada dihatinya itu. 
“Nath? Jenath!” panggilan Jovan yang sedikit keras menyadarkan lamunanku.
“Kamu gapapa?” tanya Jovan lagi. Mereka berdua melihat kearahku. Daripada aku menganggu suasana romantis itu, aku langsung berlari meninggalkan tempat itu dengan mataku yang memerah.
Jovan mengejarku sambil meneriakkan namaku berkali-kali. Aku tetap bersikukuh tidak akan mau menoleh. Diluar dugaan ia malah mencekal tanganku keras.
“Aw sakit! Lepaskan tanganku!” aku menghentakkan tanganku beberapa kali, tapi kekuatan cengkraman Jovan jauh lebih kuat. “Aku tidak suka dengan Shinta, Nath. Percayalah padaku!” tegas Jovan. 
Bukan itu yang ingin ku dengar. Tapi—
BRAKK
Jovan mendorongku ke tembok, menautkan matanya yang tajam itu kearahku. Si lensa berwarna kelabu seolah-olah tidak akan membiarkan siapapun melawan perintahnya dengan menusuk tajam kearah lensa kontak lawannya. 
“Kamu cemburu karena Shinta menyukaiku, hm?” Jovan mulai berbicara dengan nada yang mengitimidasi. 
“Aku lebih cemburu ketika kamu menatap Shinta sampai tidak berkedip, manis.” Jovan berbisik tepat disamping telingaku. Smirk dibibirnya mulai Jovan tunjukan, pertanda bahwa ia tidak akan melepaskan lawannya. Aku benar-benar ketakutan ketika Jovan seperti ini.
“Mau apa kamu hah!” bentakku.
“Sssttt tenanglah, manis. Aku tidak akan menyakitimu, aku hanya ingin bermain denganmu malam ini.” Wajahnya semakin mendekat. 
Aku harus pergi dari sini bagaimanapun caranya!
Aku mendorong Jovan sekuat tenaga untuk mencari celah supaya aku dapat kabur darinya. Namun, percuma saja. Tenaganya sangat kuat ditambah lagi, Jovan mendekapku dipojok ruangan. 
“Kenapa? Kamu mau kabur dariku? Tentu saja tidak akan bisa. Karena kamu terlalu manis untuk bisa kabur dariku, sayang.” 
Ya Tuhan tolong aku…
Bersambung…

Kamis, 24 Februari 2022

Shinta memanggil yang lainnya yang baru selesai menyantap hidangan yang di sajikan oleh Ibu Rendy. 

"Aku barusan sudah memikirkan gerakan tarian untuk kelompok kita. Karena kita kekurangan anak perempuan di kelompok kita, jadi Jenath pengganti perempuan yang lain. Jenath juga setuju dengan usulanku."kata Shinta menjelaskan dengan senyuman ceria nya. 

"Eh, karena tari yang kita pilih tari berkelompok, bagaimana sementara latihannya sama pasangan nya dulu yah. Baru nanti di gabung sama yang lainnya."

Di dalam hati aku merutuki kebodohan ku, harusnya aku tadi tidak mengiyakan usulan Shinta. kalau latihannya sama pasangan tari dulu, bisa-bisa yang ada Jovan berusaha mencari kesempatan kepada ku.

Shinta telah membagi-bagi pasangan tari nya, sudah ku duga aku akan berpasangan dengan Jovan, Shinta berpasangan dengan Ryco, Nina dengan Rendy.  Aku mendengus kesal begitu melihat interaksi antara Shinta dan Ryco yang tengah berlatih tariannya. ayolah! Kenapa aku jadi cemburu begini? Memangnya aku siapa nya dia? 

Jovan yang sepertinya sadar akan kekesalan ku, dia tersenyum smirk. Dia menarik tanganku, juga mencolek daguku,"mari kita berlatih, manis."ucapnya, di sertai dengan senyum yang penuh arti. 

Aku menipis kasar tangannya. Demi apapun!! Rasanya aku pengen muntah saat itu juga saat dia memanggilku dengan sebutan'Manis'

Dan rasanya aku ingin menghilang saja untuk saat ini, aku tidak mempermasalahkan aku berpasangan dengan siapa aja, tapi Jovan?? Si manusia aneh satu itu membuatku merasa tidak nyaman berada dekatnya. 

Dengan terpaksa, aku mulai berlatih dengan Jovan sebagai pasangan tari ku. Di awal-awal latihan sudah tidak ada hal yang aneh dari Jovan. Tapi di saat pertengahan latihan, Jovan mulai meraba-raba bagian Pinggang ku

Bugh! 

 Aku yang merasa sangat marah dengan perlakuan nya barusan. Ku dorong Iyah sampai terduduk di lantai

"APA-APAAN KAMU TADI HAH?!"

Kamis, 17 Februari 2022

Aku berjalan selangkah lebih dulu dibanding Jovan, berupaya untuk menyatu dengan teman-teman lain yang telah berjalan cukup jauh di depan kami. “T-tungggu...akuu...!” Ucapku dengan napas tersengal-sengal. Aku mencoba berlari untuk mengejar teman-teman yang lain dan meninggalkan Jovan sendirian di belakangku, Sebuah tangan menarikku dari belakang, seperkian detik kemudian aku melihat bus melintas benar-benar di depan wajahku.

“Kalau jalan itu biasa aja, lihat kiri-kanan juga, ini jalanan besar. Coba kalau aku tarik tangan mu? Pasti tubuhmu sudah berselimut koran dengan status jenazah” ucapnya. Aku tertunduk, perkataan lelaki itu ada benarnya, namun di satu sisi aku terpekik, mengapa dia berbicara sebegitu kasar padaku?

“Ah... iya, terima kasih, Jovan.” Aku membungkuk kan tubuhku di hadapannya.

Jovan mendengus, “Maaf jika nada bicara ku kasar, aku hanya khawatir padamu. Sudahlah, ayo kita menuju rumah Rendy"

Aku mengangguk, kemudian lanjut berjalan. Entah aku harus mengatakan ini atau tidak, aku masih agak takut dengan Jovan. Namun jika tidak, akan semakin lama teman-teman lain menunggu. Ya sudah lah, persetan dengan segala persepsi yang muncul di pikiran Jovan. “Hmm... Anu, Jo. Sebenarnya dari kecil aku takut untuk menyebrang di jalan besar jika tidak dituntun.”

Aku sudah siap jika Jovan menatapku aneh, namun yang keluar malah sebuah tawa kecil. “Jadi kamu mau aku genggam?”

Aku dan lelaki itu pun bergandeng tangan sambil menyebrang jalan, tatapan aneh dari Rendy dan yang lain membuatku ingin segera tiba di halte dan melepas genggaman tangannya. Lagi dan lagi Jovan melayangkan senyuman aneh yang membuatku geli sendiri. Ya Tuhan, kapan hal ini berakhir?
________________________

"Jadi? Kita mau mulai darimana?" tanya Ryco mengambil alih pembicaraan.

"Coba cari referensi dulu deh, karena kan kelompok kita ada cewe nya jadi agak susah" usul Nina yang aku balas dengan anggukan setuju.

Rendy mengangguk, ia mulai mengetikkan sesuatu di laptopnya sebelum sebuah video muncul di hadapan kami.

"Wah, kamu jago juga ternyata. Aku kira kamu cuma wibu yang nolep" canda Sinta dengan raut bangga.

"Tapi di sini ada 3 perempuan, sedangkan kita cuma ada 2 orang. Mau ganti yang lain?" tawar Rendy saat ia kembali memperhatikan video yang terputar di layar laptop miliknya.

Kami berdiskusi panjang, kurang lebih 15 menit kami berdiskusi mengenai hal ini. Mengingat waktu yang sangat singkat, akhirnya kami sepakat tetap menggunakan video tersebut dengan beberapa gerakan yang dimodifikasi. Mungkin dewi Fortuna sedang berpihak pada kelompok kami, karena Sinta, sang ketua tim tari sekolah berada di sini sehingga seharusnya semua berjalan dengan lancar.

Kami sibuk menyantap hidangan yang disajikan oleh ibu Rendy, sedangkan Sinta sedang memikirkan gerakan apa yang sekiranya cocok untuk kami. Sedikit bercerita, Sinta adalah wanita yang aku suka sejak semester lalu. Tentu bukan hanya aku, banyak siswa lain yang juga menyukainya. Sifatnya yang ramah, baik, dan paras cantiknya membuat siapapun yang melihatnya pasti langsung jatuh hati.

"Jenath!" tanpa sadar ternyata aku melamun seraya terus menatap ke arah Sinta. Astaga, untung saja ia tak menyadari hal itu. Aku menoleh saat namaku kembali dipanggil dengan suara cukup lantang. Jovan sudah berdiri di depan pintu dengan kunci motor di tangannya. "Ayo temani aku membeli minuman" ujarnya yang ku balas anggukan singkat.
_________________________________

"Kamu suka ya sama Sinta?" tanya Jovan tiba-tiba.

Tanganku yang semula berniat meraih botol minuman di dalam kulkas seketika berhenti. "Eh... nggak kok, ada-ada aja" balasku dengan suara hampir tak terdengar.

"Ga usah bohong, cuma ada aku 'kan di sini"

"Kalau aku bilang nggak, ya nggak, kenapa sih kamu ga percaya?!"

Apa ini? Kenapa aku malah membentak Jovan? Astaga, kenapa aku malah seperti wanita yang ingin datang bulan begini sih. "Maaf, ayo cepet bayar." ucapku dengan suara samar. Jovan tak kunjung bergerak, mungkin ia masih sedikit terkejut karena bentakkan ku. Aku merebut beberapa botol yang ada di tangannya kemudian berjalan dengan cepat ke arah kasir.
____________________________________

"Minum dulu, Sin." ujarku menghampiri Sinta dengan sebotol air di tangan. Sinta menerimanya, lalu mulai meneguk air dari botol itu. Mataku tak dapat terlepas dari Sinta, bagaimana bisa ada orang secantik ini. Aku curiga di kehidupan sebelumnya ia adalah bidadari.

"Makasih ya-eh Jovan, sini dulu deh!" Sinta melambaikan tangannya, berusaha memanggil Jovan yang baru saja ingin duduk bergabung dengan yang lain.

"Apa?" tanya Jovan dengan nada cuek. Sinta menarik tanganku dan juga Jovan ke sebuah formasi yang sedikit ambigu bagiku.

"Daripada ubah formasi nya, mending kita samain aja terus kamu jadi pengganti perempuan yang lain, gimana?" usulnya seraya menunjuk ke arah ku.

Aku menunjuk diriku sendiri, "Aku? Ga salah?" tanyaku tak percaya. Sebuah anggukan antusias dari Sinta membuat kepalaku semakin pusing. "Eh, tapi gerakannya ga terlalu gemulai kok nanti, cuma formasi nya tetap kayak di video aja, gapapa kan?"

Aku mengangguk terpaksa, kemudian Sinta mulai memanggil semua orang untuk berlatih. Ya ampun, apa dosaku sebanyak itu hingga jalan penderitaanku masih begitu panjang?

Rabu, 09 Februari 2022

Setelah pertemuan tanpa sengaja dengan Pak Jonathan, aku pun melangkahkan kakiku dengan cepat menuju kelas karena beberapa menit lagi istirahat akan segera berakhir.

"kring... kring... kring..." waktu istirahat sudah berakhir dan sekarang adalah jam pelajaran Bu Wulan guru Seni Budaya. Beliau memberikan tugas kelompok untuk membuat grup tari yang akan ditampilkan pada minggu depan, sayangnya beliau sudah membagikan anggota masing masing kelompok, dan sialnya ternyata aku satu grup dengan Jovan, orang yang paling aku hindari saat ini.

Bu Wulan mengatakan untuk menggunakan jam pelajarannya saat ini untuk berdiskusi mengenai tari yang akan di tampilkan oleh masing-masing kelompok. Aku pun berdiskusi dengan anggota kelompokku yang lain di bangku belakang.

Kelompok tari ku berisi 6 orang, terdiri dari aku, Nina, Sinta, Rendy, Ryco, dan si brengsek Jovan Saat aku datang, Jovan melihat ke arahku sambil mengeluarkan senyum genit yang membuatku merasa jijik dan ingin memukulnya.

Setelah diskusi panjang, akhimya kelompokku memutuskan untuk latihan tari di rumah Rendy
setelah pulang sekolah nanti. Bel pulang sekolah pun berbunyi. Suara nyaring bernada mulai menembus telingaku sekarang.

Sebenarnya aku sedikit malas untuk pergi ke rumah rendy, apalagi bersama si jovan brengsek itu, tapi mau tak mau aku harus mengisi nilai tugasku juga. Beberapa menit setelah siswa lain mulai bubar, teman-teman sekelompokku berunding masalah transportasi..

"Eh, kita mau naek apa ke rumah rendy?" Tanya nina membuka percakapan.

"Rumah rendy deket sama transportasi umum apa?" Sahut sinta.

"Rumahku dekat dengan halte bus, apa mau naik bus aja?" Sahut rendy.

"Iya, kalo emang deket mah aku ikut aja" ujar ryco

"Yaudah kalo gitu, kalian gimana?" Tanya rendy seraya menatapku dan jovan. Saat aku melihat ke arah jovan, ternyata dia sedang memperhatikanku, belum mulai saja sudah membuat risih.

"Aku ikut aja." Sahutku pelan.

"Iya, aku juga ngikut aja" jawab jovan yang masih memandangiku. Aku berusaha mengalihkan pandanganku agar menepis jauh-jauh pikiran buruk di otakku.

"Yaudah, kita berangkat sekarang? Ajak nina.

"Ayo!" Aku pun berjalan dari sekolah menuju halte bus, tidak terlalu jauh, tetapi terasa jauh varana ada jovan hrangeal di campingku

Di tengah perjalanan menuju halte, ada sebuah indomart yang terlihat cukup sepi. Jovan tiba tiba saja menahan tanganku sambil tersenyum, dan itu membuatku kaget sekaligus tak nyaman.

Temen-temen! Aku sama jenath jajan dulu ya! Nanti nyusull" Tiba-tiba jovan si brengsek itu
membuat ulah. Aku tak mau ikut tapi mau bagaimana lagi, teman-teman yang lain sudah cukup jauh di depan sementara aku tidak tahu jalan menuju halte.

"Ayo, kamu mau jajan apa sayang? Nanti aku beliin deh. Pasti haus" ucapnya yang terdengar
menggelikan di telingaku.

"Gak" jawabku singkat dan diam di tempat.

"Kenapa? Temenin dong ke dalam, masa aku sendiri si?" Kata kata jovan yang sengaja di lembutkan membuatku merasa mual dan ingin menampamya saat itu juga.

"Kalo mau jajan cepet." Ucapku sambil menatapnya dengan tajam.

Pfft, iya iya... tunggu ya.. entah apa yang lucu menurutnya, dia terus tersenyum dan menahan
tawa seperti itu. Membuatku jijik.

Akhirnya dia masuk ke dalam indomart itu setelah menyentuh daguku. Aku menepis tangannya dan sialnya tidak kena. Lalu akupun mengelap kasar dagu bekas sentuhannya lalu menunggunya keluar.

Beberapa menit aku menunggunya, tetapi tidak keluar juga. Aku rasa teman-teman yang lain sudah bosan menunggu di halte bus, mudah mudahan mereka tidak meninggalkan kami karena aku dan jovan tidak tahu jurusan busnya..

"Udah nih, nungguin ya?" Sapa jovan tiba-tiba membuatku menoleh kearah nya.

"Gak" jawabku singkat lalu bergegas menyusul yang lain.

"Hehehe, yaudah ayo." Lagi lagi jovan brengsek itu mengagetkanku. Dia menggandeng tanganku secara tiba-tiba.

Aku melepaskan tangannya, tapi dia malah memegangi lengan atasku, jujur aku sangat lelah
hari ini. Aku diam dan memfokuskan pandangan ke depan. Aku sengaja mempercepat
langkahku agar teman-teman yang lain tersusul olehku Dan akhirnya setelah beberapa menit, aku sudah hampir sampai di halte bus, aku melihat yang

lain sedang menunggu bus disana. Aku langsung melepas genggaman si brengsek itu dan lari
menaiki JPO menuju halte.

Rabu, 02 Februari 2022

Perkenalkan, Namaku Jenath. Aku salah satu siswa yang mungkin bisa dibilang pendiam dan berbeda sifatku dengan lelaki lain pada umumnya. Disini aku akan menceritakan bagaimana kisahku pada masa lalu yang malas dan mungkin orang lain mendengarnya jijik kepadaku, Bahkan jika aku ingat aku pasti merasa jijik juga dengan diriku sendiri.

Hari itu berjalan sebagaimana mestinya. Ada beberapa hal yang membuatku kesal di pagi hari sebelum berangkat sekolah. Bisa-bisanya aku lupa membawa topi di hari Senin yang membuatku harus berdiri dibarisan anak nakal upacara tadi.

"Jen! Jenath, ini kertasnya woy!" 

Aku tersentak dari kekesalanku saat kertas ulangan matematika menyapu wajahku dengan sedikit kencang.

"Makasih," ujarku pelan. Entahlah aku sedikit merasa tidak nyaman pada teman sekelasku itu.

"Sama-sama." Dia kembali menghadap ke depan setelah sekilas mencolek daguku.

Aku menggelengkan kepala menepis prasangka buruk. Mulai fokus pada deretan angka dan kurva di kertas.



Setelah sembilan puluh menit berlalu suara yang ditunggu sebagian murid terdengar. Aku salah satunya karena perut ini sudah berbunyi sedari tadi minta diisi. Aku berdiri ingin mengumpulkan kertas ulangan ku, tapi saat melewati meja Jovandra dia mencekal tanganku.

"Liat sebentar please?" Pintanya memelas.

Aku melihat kertasnya memang tinggal tiga nomor lagi yang belum terisi, lalu aku melihat guru berkacamata itu tertutup murid lain yang sedang mengumpulkan kertas. Jadi kubiarkan saja Jovan melihat kertas ulanganku.

"Jangan lama-lama." 

"Oke, manis." Dia mengedipkan matanya membuatku risih dan memberi jarak lebih.

Setelah aksi mencontek Jovan dengan kecepatan kilat, akhirnya aku dapat mengumpulkan kertas ulanganku. Setelahnya aku membereskan meja dudukku lalu pergi ke kantin bersama yang lain.


"Siapa yang mau pesen?" Ujar salah satu teman.

"Gue aja," aku mengajukan diri karena memang sudah seminggu ini aku belum jadi yang mengantri memesan makanan.

"Oke, gue kaya biasa." Pesan Rendy

"Gue siomay sama Deri juga."

"Gue ikut lu ngantri," ujar Jovan membuatku menatapnya. "Susah nanti bawanya." Aku mengangguk.

Berjalan menuju stand makanan di sana. Sesak, bising dan berebut. Terkadang aku memaki saat kakiku terinjak. 

"IBU SIOMAY TIGAA!" Tidak sadar aku ikut berteriak. Padahal aku ada di baris depan tapi tidak perduli toh suaraku teredam yang lain.

Aku menoleh saat mendengar kekehan, Jovan brengsek ku kira dia mengantri di stand bakso untuk Rendy. 

"Lu mending beli bakso buat Rendy."

"Hah?!" 

"Beli bakso buat Rendy!" Aku berteriak tepat di depannya apa tidak terdengar?

"Nanti aja barengan." Terserah lah.

Aku merasa tidak nyaman karena dapat ku rasakan pundakku menempel pada tubuhnya. Aku bergeser menjauh darinya, tapi dia kembali menarikku agar berada di depannya. Aku menatap galak dia yang sekarang sedang menerima dua piring siomay. Aku mengambil satunya lagi lalu membayar dan bergegas pergi.


Aku menaruh piring siomay itu cepat di meja yang ditempati temanku yang lain, lalu pergi ke stand bakso yang memang sudah sepi sendiri.

"Bang, baksonya satu jangan pake daun bawang." Ujarku sambil menunduk.

"Daun bawang? Sakit lu, Tong, sejak kapan bakso pake daun bawang?" Pria setengah baya dengan topi itu tertawa sambil membuat pesanan ku. 

"Eh?" Aku linglung.

"Maksudnya daun seledri?"

"Iya, daun seledri." Aku cengengesan.

Berterimakasih saat mangkok dengan kuah panas itu berada di tanganku. Berjalan kembali menuju meja tadi, mereka masih mengobrol menunggu bakso ini datang. Tapi kenapa, bangku yang kosong harus di sebelah Jovan?! Sungguh aku tidak nyaman berada di dekatnya!

"Nih baksoknya, Ren." Aku menaruh mangkok itu di depannya, sedikit mendorong bahunya agar bergeser sedikit untukku duduk.

"Makasih. Lu duduk di situ aja kosong sini dah sempit." Tunjuknya ke tempat kosong itu dengan sendok.

Tidak ada pilihan lain aku di sana. Memakan siomay dengan cepat agar bisa menjauh dari Jovan. Sedikit menimpali obrolan yang terbentuk karena ulangan tadi.

Aku menahan napas ku saat merasakan ada yang menyentuk dengkulku. Itu Jovan. Aku biarkan saja mungkin tangannya pegal. Tapi kenapa semakin keatas? sekarang berada di pahaku. Seakan tidak terjadi apa-apa dia tetap mengobrol dengan yang lain. Aku semakin menjauhkan dudukku dan mengangkat kaki ke pahaku--menendang tangannya dari sana.

Makananku selesai aku langsung pergi dari sana. Berjalan cepat sebelum hampir menabrak seseorang saat berbelok. 

"Kamu itu pelan-pelan kalau jalan dong! Untung gak nabrak saya." Refleks pak Jonathan membentukku.

Dengan nafas tersendat aku membungkuk meminta maaf,

"Kenapa kamu pucat? Sakit?" Tanya guru BK itu. Memang wajahku pucat?

"Tidak, Pak."

"Oh, yasudah. Kalau sakit ke UKS ya." Guru itu berlalu masuk ke ruangannya setelah menegur siswa yang baju seragamnya ke luar.

Kamis, 07 Oktober 2021

Rudi membuka mata dan mendapati diri nya terbaring diranjang rumah sakit, tidak ada siapapun disana. Kemudian ia duduk dan meringis sambil memegang bahu nya yang terasa sakit akibat tembakan bius itu. "ah sial!, aku sudah tertangkap. Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Rudi harus memutar otak agar bisa keluar dari rumah sakit.

Rudi bangkit dari duduk nya, berniat mengintip keluar apakah ada orang lain yang mengawasinya atau tidak. Setelah dirasa aman, Rudi mencoba menahan pintu dengan laci besi yang ada di kamar itu. Mendorong dengan sekuat tenaga karena bahu nya masih terasa sakit. "aku harus menyusun rencana agar bisa kabur dari sini". Rudi baru sadar bahwa ada ranjang lain yang ditutupi oleh tirai, ia membuka nya dan ternyata itu adalah asisten suruhan nya yang ikut dibius. "Si brengsek ini ternyata ikut tertangkap, ck" Rudi berdecak kesal.

"Dia belum sadar, dan aku tidak bisa membawa nya ikut bersama ku. Akan sangat merepotkan. Ah, biarkan sajalah dia disini". Kemudian Rudi mengintip ke jendela dan betapa beruntung nya ia mengetahui bahwa kamar ini berada di lantai 2 dan menghadap ke tempat parkir belakang.

Rudi mengambil selimut yang ada diranjang nya dan yang di pakai oleh asisten nya, batin Rudi sangat lega karna bahan selimut rumah sakit itu lumayan kuat untuk beban tubuhnya. Kemudian ia ikat agar menjadi panjang dan turun lewat balkon dengan selimut itu. Rudi membuka pintu balkon sepelan mungkin agar tidak terdengar keluar dan ia mulai melancarkan aksi rencana nya tersebut.

"Tok.. " satu ketukan pintu terdengar

Segera, tanpa pikir panjang Rudi ikatkan ujung selimut yang tadi ke besi penjaga balkon kuat-kuat. Ketukan pintu semakin terdengar dengan bunyi keras dobrakannya, "Sial!, Kenapa polisi itu sangat menjengkelkan?!" Batin Rudi yang terus berusuha turun dengan hati-hati dari balkon tersebut menggunakan selimut tadi.

BUGH

Dentuman keras yang terdengar saat Rudi telah sampai bawah, tempat parkir. Ia melihat ke atas, ternyata polisi yang mengetuk pintu tadi sudah berhasil masuk ke dalam. Ia dan sang polisi saling memberikan eye contact, karna tak mudah di kelabui Rudi lari dengan cepat serta tangan yang memberikan jari tengah ke arah belakang tanpa menoleh.

"Oh damn, lagi-lagi polisi berteberan dimana-mana, aku harus pintar menyamar"  gerutu Rudi

Rudi berjalan seperti pasien pada umumnya, herannya tidak ada seorangpun yang mencurigai dirinya. Satu kartu hoki dalam hidupnya sudah di pakai.

⋆✦⋆✦⋆

Di sudut kota terpencil, entah mengapa malam hari ini terasa sangat dingin. Tertangkap sosok yang tengah membaca surat kabar dengan menyeruput secangkir kopi di cangkir berwarna hijau. Rudi, dia masih Rudi yang sama.

Sudah satu tahun ia menghilangkan semua jejak dirinya, bahkan identitas nya pun di ubah. Jera? Tidak. Itu bukan Rudi.

Kalau kalian bertanya, kemana saja Rudi selama setahun ini? 

Iya, ia membuat rencana dengan matang. Rudi yang keras kepala, tetaplah Rudi yang seperti itu. 

Rudi sedang mengambil handphone nya, lalu menelpon salah satu nomor yang berada di history call terbaru nya.

"Halo? Dengan siapa disana?" Ucap orang di sebrang sana

Rudi memutuskan telepon sepihak, tanpa menjawab satu katapun. Apa kalian bisa menebak? Ya, Rudi meneror keluarga Albert setiap malam. Bahkan ia mengganti kartu ponsel bisa setiap hari, sungguh senang melihat 'dia' yang kebingungan tiap harinya.

(Disisi lain)

Albert selalu merasa terganggu dengan teror telpon itu hampir setiap malam. Dan ia juga sudah melaporkan kejadian tersebut kepada polisi. Namun polisi tidak bisa melacak nomor yang meneror nya, karena nomor tersebut selalu berbeda-beda.

"Sebenarnya apa tujuan orang jahil ini selalu menelpon ku setiap malam, sangat mengganggu" ucap Albert. "Dapat telpon dari orang itu lagi pa?" Nanda masuk ke kamar Albert membawa secangkir kopi.

"Iya Nan, kira-kira siapa ya yang selalu menelpon papa setiap malam dengan nomor yang berbeda?" Albert sebenarnya tidak ingin ambil pusing dengan kejadian ini, selama itu tidak membahayakan anak satu-satunya sekarang.

Selain menelpon Albert setiap hari, Rudi juga menyusun rencana baru untuk kembali membalaskan dendamnya. Kali ini ia harus sangat cermat menyusun rencana, tidak boleh gegabah dan gagal seperti sebelum-sebelumnya. Ia yang meninggalkan bukti di tkp Nando menyebabkan rencananya gagal.
 
Rudi belajar banyak dari penyerangan setahun 
lalu. Ia harus masuk ke rumah dokter itu saat tengah malam, saat semua orang sedang terlelap. Rudi harus masuk diam diam tanpa suara memakai penutup wajah agar indentitasnya tidak diketahui. Rudi harus memikirkan baik baik cara terbaik membunuh mereka. Cara yang tidak menarik perhatian orang banyak tapi menyiksa. 

Mungkin kali ini ia harus bertindak sendiri agar tidak ada bukti yang tertinggal sama sekali. Rudi sedikit bingung apa yang akan dia gunakan untuk membunuh, apakah pisau, pistol, palu, kapak atau dibakar hidup-hidup saja. Rudi juga harus berpikir bagaimana cara dia benar benar menghilangkan bukti dan pergi dari sana. Apakah ia harus pindah ke luar kota? Atau bahkan luar negeri?

⋆✦⋆✦⋆

Jam sudah menunjukkan pukul 10 malam ketika Rudi menendang seorang satpam yang sudah tak berdaya di pos nya.

"Bukan hanya tidak kompeten dalam menangani pasien, ternyata orang itu juga tidak bisa memilih seorang penjaga." gumamnya.

Rudi beranjak menuju ke rumah dokter Albert dengan sembunyi-sembunyi. Sengaja ia tak memakai sepatu agar langkah kakinya tak terdengar oleh sang dokter maupun Nanda.

Rudi sudah mencari tahu tentang denah rumah yang ditempati dokter Albert, oleh karena itu mudah baginya untuk masuk ke dalam melalui "pintu rahasia" di sana.

(Di dalam rumah)

Albert dan Nanda sedang asik menonton televisi yang menayangkan acara komedi. Tak sengaja Nanda melirik ke arah jam di tangannya.

"Aku naik duluan ya, yah." ucap Nanda yang hanya dibalas anggukan oleh ayahnya.

Semenjak kehilangan ibu dan anak laki-laki nya, Nanda merasa kalau sang ayah banyak berubah. Bukan hanya dari perilakunya, tapi juga kebiasannya.

Tak mau ambil pusing dengan segalanya, Nanda segera berjalan menaiki anak tangga dan masuk ke kamar nya.

Sebuah hembusan nafas singkat keluar dari bibirnya. Ia menatap lurus ke arah laki-laki di depannya. "Rud,"

Rudi menoleh, ia tersenyum kecil kemudian mendekat ke arah Nanda. "Gimana? Seru nonton nya?" tanya Rudi basa-basi.

"Sebenarnya apa yang ingin kamu ucapkan sampai harus nekat masuk ke kamar ku malam-malam begini? Lagipula bukannya kau..."

"Bukan aku, Nanda. Pelakunya adalah orang lain yang wajahnya persis denganku. Aku jadi harus berpindah tempat tinggal karena terus dikira buronan," potong Rudi cepat.

Bisa diakui, skill acting Rudi cukup bagus. Buktinya Nanda terlihat tertipu oleh ucapannya. Mungkin setelah berhasil membalaskan dendamnya ia akan ikut tes untuk memerankan seorang tokoh di sebuah film.

"Lalu, hanya itu?" tanya Nanda dengan nada datar. Rudi dengan cepat menggeleng, tangannya terulur untuk menggenggam tangan kecil Nanda.

"Ikut aku, ya. Ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan, sesuatu yang akan membuatmu berdebar"

Dengan segala keberanian, Nanda mengangguk kemudian ikut keluar bersama dengan Rudi.

Mereka tak keluar melalui pintu depan, tetapi melalui pintu rahasia yang menjadi jalan masuk Rudi.

"Aku tidak tahu rumah ini memiliki pintu rahasia" gumam Nanda yang dibalas tawa kecil oleh Rudi.

"Bagaimana bisa aku lebih tahu rumah mu daripada kamu sendiri? Bisa saja aku rampas semua harta mu," bisiknya.

Nanda ikut tertawa kecil kemudian membalas, "Coba saja kalau bisa." lalu ia berlari masuk ke dalam mobil yang dibawa Rudi.

Rudi berhenti sejenak, ia tersenyum miring saat Nanda sudah masuk ke dalam mobil. "Lihat saja, aku akan merampas sesuatu yang lebih berharga dari semua harta yang kamu miliki, gadis kecil."

⋆✦⋆✦⋆

Terhitung sudah kurang lebih 1 jam Albert menonton televisi sendirian. Setelah mematikan televisi dan juga beberapa lampu, Albert beranjak menuju kamar Nanda untuk melihat anaknya.

Raut wajahnya tampak bingung saat dilihat lampu kamar Nanda masih menyala. Apa anak itu masih mengerjakan tugas rumah, pikirnya.

"Nan, ayah masuk ya." ucapnya yang tak mendapat balasan dari dalam.

Albert membuka pintu kamar anaknya dan betapa terkejutnya iya saat tak menemukan Nanda di dalam sana. "Nan? Nanda!" Albert terus berusaha memanggil Nanda namun nihil.

Ditengah kepanikannya, sebuah nomor tak dikenal menelponnya. Tanpa pikir panjang Albert segera mengangkat panggilan itu.

"Mencari anakmu, huh?" ucap penelpon itu dengan suara berat.

"Siapa kau? Apa yang kau lakukan dengan anakku?!" Albert berteriak pada orang di seberang sana.

"Jika kau ingin anakmu selamat, datang saja ke alamat yang ku berikan. Sendirian. Kalau aku lihat kau memanggil seseorang, aku tak segan-segan untuk membunuh kucing kecilmu ini,"

Sambungan diputus oleh orang tak dikenal itu. Sebuah pesan masuk menjadi satu-satunya yang akan memberitahu nya lokasi Nanda.

Albert berlarian menuruni anak tangga, disambarnya kunci mobil di atas meja. "Tunggu ayah, ya, sayang. Ayah pasti menyelamatkan kamu."

Mobil mewah itu membelah jalan malam yang sepi akan pengendara. Dengan terus menyebut nama anaknya, Albert terus menambah laju mobilnya.

Tiba lah ia di alamat yang dikirim oleh nomor asing itu. Jarak yang harusnya ditempuh selama 20 menit kini hanya ia tempuh selama 8 menit.

Tanpa pikir panjang, Albert segera memasuki gedung tua di depannya. Persetan dengan segala kemungkinan terburuk yang akan terjadi, ia hanya ingin melihat anaknya selamat.

Gedung itu gelap, hawa horor menyelimuti segala sisinya. Di pojok ruangan, Albert menemukan Nanda yang sudah terbaring lemah dengan sebuah tali yang mengikatnya.

"Nanda!" Albert berlari menuju ke arah anaknya, tangannya terulur untuk memeluk satu-satunya anggota keluarga yang ia miliki. "Siapa yang melakukan ini padamu, nak?"

Dari arah belakang, Albert dihantam menggunakan tongkat kayu yang membuatnya tak sadarkan diri. Rudi melempar kayu itu kemudian ia membalik tubuh Albert.

"Baru ku pukul kayu sudah pingsan," gumamnya.

Rudi menyamakan tingginya dengan Albert, ia menatap lekat wajah pria di depannya dengan sorot amarah. "Bahkan wajah ibuku masih lebih layak daripada dirimu, sialan."

Setelah mengatakan hal itu, Rudi beranjak untuk mengambil tali di sisi lain ruangan. Namun Rudi tak menyangka kalau Albert malah menyerangnya balik.

"Sial!" Rudi memegang lehernya yang meneteskan darah. Ia membalik badan kemudian tersenyum penuh arti.

"Sepertinya aku terlalu baik padamu, dokter Albert" ucapnya seraya menjalan mendekat.

Albert menggenggam erat kayu yang menjadi satu-satunya pertahanan dirinya. "Siapa kamu? Apa yang kau inginkan dariku dan anakku?!"

"Wah, sangat disayangkan ternyata kau tidak mengenali ku. Keinginanku sebenarnya sederhana, aku hanya ingin kau menderita seumur hidupmu"

Rudi mengeluarkan sebuah pistol dari sakunya. Hal itu membuat Albert segera menghadang tubuh Nanda dengan tubuhnya sendiri.

"Untuk apa repot-repot melindungi mayat itu, dokter bodoh?" ujar Rudi yang membuat Albert segera mengecek kebenarannya.

Albert membuang kayu yang ia pegang kemudian ia meletakkan tangannya di beberapa titik di tubuh Nanda. Detak jantungnya masih ada walau samar-samar, nafasnya pun masih berhembus dan teratur.

"Kau membohongi-"

DOR

Darah segar mengalir dari dada Albert, dan Rudi tersenyum melihat itu. "Bagaimana kau bisa terpedaya pada pembohong sepertiku,"

Rudi berjalan mendekat ke arah dua orang itu. Ia menatap wajah Nanda dan Albert bergantian. "Aku ingin membiarkannya hidup, tapi dia bisa saja membocorkan dan melaporkanku pada polisi-polisi itu,"

Suara tembakan kembali terdengar dari gedung itu, kali ini peluru itu mendarat di tubuh Nanda. Darah seketika mengalir dari bibir wanita itu.

Albert berusaha membangunkan anaknya dengan segala kekuatan yang ia miliki. Dadanya terasa sesak karena telah kehilangan seluruh anggota keluarganya.

"Senang melihatmu menderita, akhirnya kau merasakan apa yang aku alami beberapa tahun ini,"

Satu tembakan di kepala Albert mengakhiri balas dendam Rudi malam itu. Dengan wajah puas Rudi meninggalkan gedung tua itu tanpa meninggalkan barang bukti apapun.

Ia berjalan dengan senyuman lebar di wajahnya. Saking bahagianya, Rudi tak sadar kalau sebuah mobil melaju dari arah lain dan menghantam tubuhnya sampai terlempar beberapa meter.

⋆✦⋆✦⋆

Rudi membuka matanya perlahan, sebuah cahaya memaksa masuk ke dalam retina nya membuat penglihatan Rudi menjadi kabur.

Seluruh orang di ruangan serba putih itu histeris, beberapa dari mereka berlarian ke sana kemari dan beberapa lagi memeriksa seluruh alat yang menempel di tubuhnya.

"Kamu bisa lihat saya?" suara seorang dokter yang datang memeriksa tubuhnya menjadi suara pertama yang ia dengar.

Rudi ingin menjawab, namun matanya tak sanggup lagi menahan cahaya dari luar. Dengan segala pertanyaan yang ada di benaknya, Rudi kembali terlelap dalam tidurnya. Entah tidur sementara atau tidur panjang seperti sebelumnya.

END

Kamu Pembaca Ke

Random Post

Galeri foto

Galeri foto

Ikuti media sosial kami