Rabu, 13 September 2017


      oleh: afsokhq

Ketika aku selesai cetak idcard setelah sebelumnya muter-muter di pasar Poncol sepulang kerja, dan nggak sengaja bertemu dengan guru agama, anggota jurnalis kelas 10 banyak yang bertanya, kok kita nggak dibikinin. Itu adalah tanda tanya besar bagi mereka, dan untuk jawaban dariku adalah: aku takut kita putus lebih cepat, nikmati masa PDKT ini dulu.

Maksudku begini, idcard ini bukanlah hal yang sepele. Kalau boleh aku bilang, idcard ini mirip dengan topi bagi anak paskibra. Anak paskibra biasanya ketika pelantikan akan disuruh oleh qaqa-qaqa-nya untuk mencari topi ketika pelantikan. Dan bagaimanapun caranya, mereka akan menangis untuk mendapatkannya.


 
     
perjalanan menuju tempat percatakan
Begitupun idcard. Sungguhlah idcard ini sebuah simbol yang sangat dalam, ia memiliki nilai yang luhur. Jadi tidak semua bisa mendapatkannya.
Sebuah idcard bagi anak jurnalis itu seperti ruh yang ditiupkan Tuhan, ia suci, dan hanya orang pilihan yang bisa menjaga ruh itu agar tetap suci. Tentu saja bukan sembarang orang, dan untuk ini, saya sedang menunggu seleksi alam.
Bayangkan, ekskul ini awalnya diminati oleh anak kelas 10 sekitar 50 orang. Tentu saja dari orang sebanyak itu, tidak semuanya bertahan. Mereka yang bertahanlah yang bisa mendapatkan idcard ini dan kupercaya ia dapat menjaga ruh yang suci. 

Ada yang bertanya, apa fungsi idcard ini?
Tentu saja bukan sekadar penanda bahwa kamu adalah anggota jurnalis, idcard ini merupakan simbol bahwa kamu benar-benar mengerti kode etik jurnalis, dan bagaimana caramu untuk menempatkan diri di segela situasi. Apa pun kebisaanmu, dan bagaimana caranya, kauharus bisa menempatkan dirimu sebaik-baiknya. Dalam hal ini meliput berita.
Ia bukanlah sebatas penanda, sekali lagi, ia adalah ruh yang harus dijaga. Dan hanya orang-orang tertentu saja yang bisa menjaga ruh itu tetap suci. Dan itu butuh seleksi. Secara diam-diam.
Comments
0 Comments

0 komentar:

Posting Komentar

Kamu Pembaca Ke

Random Post

Galeri foto

Galeri foto

Ikuti media sosial kami