Hasil Wawancara Dengan
Petokoh Wayang
![]() |
Foto: Yulia |
Narasumber: Bagus
Bagaskoro
Pewawancara: Savira Dwi
Andayani
Foto: Yulia Kharisma
Penulis: Nadya
Berikut hasil wawancara dengan petokoh wayang di museum wayang dalam
acara Festival Wayang 2015.
Sejak kapan anda menyukai pewayangan?
Saya menyukai seni terutama wayang,parawitan dan tari dari
keluarga,memang dari kecil. Setelah itu,saya sekolah di sekolah kejuruan seni
juga,ambil S2 juga dikejuruan seni juga dan sekarang ngajar dikejuruan seni.
Kapan anda mulai aktif dalam pedalangan?
Saya mulai aktif pedalangan dari umur 9 tahun.
Dari tahun berapa anda ingin menjadi seniman?
Ya dari kecil,sekitar tahun 1980’an.
Menurut anda apa itu “pedalangan”?
Pedalangan,suatu cabang seni yang mencakup semuanya dan butuh
konsentrasi tinggi.
Seni apa yang paling anda suka?
Semua seni saya suka. Seni tari,seni teater,seni musik. Terutama
seni yang beraslah dari Indonesia. Karena Indonesia itu banyak sekali seni yang
khas.
Apakah anda pernah mempelajari seni dari luar
negeri?
Saya pernah belajar seni dari luar negeri seperti Sakuhaci dari
Jepang,Zimbe dari Afrika.
Dalam pedalangan apa yang paling sulit
dilakukan?
Yang paling sulit itu sanggit. Sanggit itu kemampuan seorang
dalam dalam mengolah suatu cerita.
Cerita apa yang paling anda suka dalam
pewayangan?
Saya paling suka cerita tentang Rahwana. Selama ini di Indonesia
memandang tokoh Rahwana sebelah mata. Rahwana itu tokoh antagonis, tapi
sebenarnya kalau kita ingin melihat dari sisi lai,dia juga orang baik.
Sejahat-jahatnya orang pasti ada sisi baiknya.
Apakah anda mempunyai wayang dirumah?
Ya,saya punya beberapa. Ada gatot kaca,semar,petruk.
Apa sih pesan untuk generasi berikutnya?
Pesan saya adalah cobalah mengenal wayang,kalau gak kenal kan
gak saying. Saya juga memberi tahu kepada teman pedalangan agar pewayangan bisa
dikemas menjadi sesuatu yang enak ditonton dan mudah dipahami.
Yulia : “Zaman sekarang kan ada
wayang moderen yaitu Bukan Sekedar Wayang,mungkin itu bisa membantu
memperkenalkan wayang khas Indonesia kepada anak muda yang kurang berminat di
dunia pewayangan.”